Majelis Tarbiyah: Mengatur Jadwal Pelajaran dan Nasihat

time2

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Muhammad bin Yusuf menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan menuturkan kepada kami. Dari al-A’masy, dari Abu Wa’il, dari Ibnu Mas’ud. Beliau berkata:

Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengatur waktu dalam pemberian nasihat dan ilmu kepada kami dalam hari-hari tertentu karena beliau tidak mau membuat kami bosan dengannya.

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 195]

Imam Bukhari rahimahullah juga menuturkan:

Muhammad bin Basysyaar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abut Tayyah menuturkan kepadaku. Dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Mudahkanlah dan jangan suka mempersulit. Beri kabar gembira dan jangan suka membuat lari.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 196]

Dari hadits pertama di atas, Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:

Dari hadits ini dapat dipetik pelajaran, bahwasanya dianjurkan untuk terkadang meninggalkan sikap terus-menerus dalam keseriusan/kesungguhan dalam melakukan amal salih karena dikhawatirkan hal itu dapat menyebabkan kebosanan. Meskipun sebenarnya terus-menerus beramal memang adalah suatu hal yang dituntut.

Walaupun begitu, hal itu -terus-terusan- bisa saja diterapkan dalam dua bentuk; bisa dengan melakukan hal itu -ta’lim, dsb, pent- setiap hari tanpa ada takalluf/membeban-bebani diri secara berlebihan. Atau bentuk yang kedua adalah dengan melakukannya secara selang-seling [setiap 2 hari sekali]. Satu hari yang tidak dipakai [baca; libur] bisa dimanfaatkan untuk beristirahat agar hari berikutnya bisa belajar dengan penuh semangat.

Atau bisa juga pelajaran itu diliburkan sehari saja dalam sepekan. Hal ini -pengaturan jadwal, pent- bisa berbeda-beda tergantung pada keadaan dan individu yang bersangkutan. Yang menjadi patokan di sini adalah tingkat besarnya kebutuhan -orang tsb- dan hendaknya berusaha dijaga agar semangatnya tetap membara.

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 196]

Demikian secuplik pelajaran yang bisa kami sarikan, semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: