Majelis Tarbiyah: Terangkatnya Ilmu

21876_275591044495_40569674495_3218540_2306529_n-300x300

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

‘Imran bin Maisarah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdul Warits menuturkan kepada kami. Dari Abut Tayyah dari Anas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah terangkatnya ilmu, merebaknya kebodohan, khamr ditenggak -dimana-mana- dan tampaknya/merajalela perzinaan.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 213]

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan makna judul bab yang dibuat oleh Imam Bukhari -Bab. Terangkatnya Ilmu-. Beliau -Ibnu Hajar- berkata:

Perkataan beliau -Imam Bukhari- ‘Bab. Terangkatnya ilmu’ adalah untuk memberikan motivasi dalam menimba ilmu. Karena sesungguhnya ilmu itu tidaklah diangkat/dicabut kecuali dengan diwafatkannya para ulama, sebagaimana akan datang riwayat yang menjelaskan hal itu secara tegas.

Selama masih ada orang-orang yang menimba ilmu maka ilmu itu tidaklah terangkat -secara total, pent-. Dan menjadi jelas berdasarkan hadits yang ada dalam bab ini bahwasanya terangkatnya ilmu itu merupakan salah satu pertanda dekatnya kiamat.

[lihat Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 213-214]

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

Rabi’ah -salah satu guru Imam Malik, pent- berkata, “Tidak semestinya bagi orang yang memiliki bagian daripada ilmu untuk kemudian justru menyia-nyiakan dirinya sendiri.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Syarh Ibni Baththal Juz 1 hal. 164]

Imam Ibnu Baththal rahimahullah menerangkan maksud ucapan Rabi’ah di atas:

Maksudnya adalah, barangsiapa yang memiliki penerimaan yang baik terhadap ilmu [mudah paham/cerdas] dan memiliki tingkat pemahaman yang baik terhadapnya; maka sudah menjadi sebuah kewajiban baginya untuk menimba ilmu dengan tingkat kewajiban yang lebih besar daripada orang lain -yang kurang baik tingkat pemahamannya, pent-.

Oleh sebab itu seharusnya orang itu bersungguh-sungguh di dalam hal itu -menimba ilmu-. Jangan sampai dia malah menyia-nyiakan kesempatan untuk menimba ilmu sehingga mengakibatkan dia justru menyia-nyiakan dirinya sendiri [baca; tidak mengoptimalkan potensi kecerdasan yang dia miliki, pent].

[lihat Syarh Ibni Baththal Juz 1 hal. 165]

Wallahu a’lam bish shawaab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: