Majelis Tarbiyah: Marah Di Saat Memberikan Nasihat

download

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada saya. Dari Ibnu Abi Khalid. Dari Qais bin Abi Hazim. Dari Abu Mas’ud al-Anshari.

Dia berkata: Ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, hampir-hampir saja aku tidak mengikuti sholat jama’ah gara-gara si fulan apabila menjadi imam terlalu panjang -bacaannya-.”

Abu Mas’ud berkata: Tidaklah aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu marah dalam memberikan nasihat daripada hari itu. Maka beliau pun bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian suka membuat lari. Barangsiapa yang menjadi imam sholat bagi orang-orang hendaklah dia ringankan. Karena sesungguhnya diantara mereka bisa jadi ada yang sakit, orang yang lemah, atau orang yang sedang diburu keperluan.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 224]

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan:

Muhammad bin al-‘Alla’ menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Usamah menuturkan kepada kami. Dari Buraid, dari Abu Burdah. Dari Abu Musa. Dia berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai hal-hal yang sebenarnya beliau tidak suka menjawabnya. Ketika pertanyaan-pertanyaan semacam itu semakin bertambah banyak beliau pun marah. Lalu beliau berkata kepada orang-orang, “Silahkan tanyakan apa saja yang kalian kehendaki.”

Seorang lelaki pun bertanya, “Siapakah ayahku?”. Maka beliau menjawab, “Ayahmu Hudzafah.” Setelah itu ada lelaki lain yang bangkit bertanya, “Siapakah ayahku wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab, “Ayahmu adalah Salim bekas budak Syaibah.”

Ketika melihat kemarahan yang ada di wajah beliau, Umar pun berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah.”

[lihat Shahih al-Bukhari bersama Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd Juz 1 hal. 225]

Hadits pertama memberikan beberapa pelajaran kepada kita, diantaranya:

  1. Bolehnya terlambat datang sholat berjama’ah apabila diketahui bahwasanya kebiasaan imam membaca bacaan yang terlalu panjang/lama
  2. Bolehnya menyebut orang dengan ungkapan si fulan atau semacamnya -tidak menyebut namanya secara terang-terangan- ketika mengadukan suatu permasalahan
  3. Bolehnya marah terhadap hal-hal yang diingkari dalam urusan-urusan agama
  4. Bolehnya mengingkari orang yang melakukan hal-hal yang terlarang meskipun itu hanya berderajat makruh dan bukan haram
  5. Adanya hukuman pelajaran bagi orang yang terlalu lama ketika menjadi imam sholat jama’ah apabila makmum tidak ridha dengan perbuatan sang imam, dan bahwasanya hukuman pelajaran itu pun boleh hanya dengan ucapan/kata-kata
  6. Perintah untuk meringankan sholat apabila diantara jama’ah ada yang tidak kuat/tidak betah sholat lama karena sakit atau ada kebutuhan/kesibukan lain

[lihat ‘Umdah al-Qari’ karya Imam al-‘Aini Juz 2 hal. 160-161]

Hadits kedua menunjukkan bahwa:

  1. Kedalaman pemahaman ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu dan keutamaan ilmunya, karena sesungguhnya seorang alim tidaklah ditanya kecuali dalam hal-hal yang memang dibutuhkan/ada keperluan penting atasnya
  2. Dimakruhkan/dibenci bertanya dalam rangka mempersulit/mengada-ada/tidak ada keperluan mendesak atasnya
  3. Hadits tersebut juga menunjukkan mu’jizat yang ada pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan dasar wahyu, sebagaimana yang zahir/tampak dari konteks hadits itu

[lihat ‘Umdah al-Qari’ Juz 2 hal. 171-172]

Kedua hadits di atas menunjukkan bolehnya seorang alim/guru/ustadz marah pada saat memberikan wejangan/nasihat atau pelajaran apabila dia melihat sesuatu yang tidak disukai oleh syari’at.

Oleh sebab itu Imam Bukhari rahimahullah memberikan judul bab di atas kedua hadits ini dengan judul: ‘Bab. Marah pada saat memberikan wejangan/nasihat dan pelajaran, apabila melihat sesuatu yang dibenci’.

[lihat ‘Umdah al-Qari’ Juz 2 hal. 158]

Dari Yazid bin Abdullah bin asy-Syikhkhir, dia menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Tamim ad-Dari, “Bagaimana sholat malammu?”.

Maka beliau pun marah sekali, beliau berkata, “Demi Allah, sungguh satu raka’at yang aku kerjakan di tengah malam dalam keadaan rahasia itu lebih aku sukai daripada aku sholat semalam suntuk kemudian hal itu aku ceritakan kepada orang-orang.”

[lihat Ta’thirul Anfas, hal. 234]

Demikian sekelumit faidah yang bisa kami himpun dalam kesempatan ini dengan taufik dari Allah. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: