Sebab Kebahagiaan dan Sebab Kesengsaraan

ilmoe-playlist-image-teladan-dalam-rumah-tangga-bahagia-jpg-e2eb014ff8cafa5e75add2cf247892e93c759d36

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang memperhatikan keadaan dunia, niscaya dia akan bisa menyimpulkan bahwa segala kebaikan di atas muka bumi ini sebabnya adalah tauhid kepada Allah dan ibadah kepada-Nya serta kepatuhan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan seluruh keburukan di dunia, fitnah/kekacauan dan bencana, kekeringan, dikuasai oleh musuh, dan lain sebagainya, sebabnya adalah karena menyelisihi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa/ibadah kepada selain Allah.

[lihat Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 249]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata:

Perkara paling agung yang diperintahkan Allah adalah tauhid, yang hakikat tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Tauhid itu mengandung kebaikan bagi hati, memberikan kelapangan, cahaya, dan kelapangan dada. Dan dengan tauhid itu pula akan lenyaplah berbagai kotoran yang menodainya.

Pada tauhid itu terkandung kemaslahatan bagi badan, serta bagi [kehidupan] dunia dan akhirat. Adapun perkara paling besar yang dilarang Allah adalah syirik dalam beribadah kepada-Nya. Yang hal itu menimbulkan kerusakan dan penyesalan bagi hati, bagi badan, ketika di dunia maupun di akhirat. Maka segala kebaikan di dunia dan di akhirat itu semua adalah buah dari tauhid. Demikian pula, semua keburukan di dunia dan di akhirat, maka itu semua adalah buah dari syirik.

[lihat al-Qawa’id al-Fiqhiyah, hal. 18]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah berkata kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya, ‘Seandainya kamu memiliki kekayaan seluruh isi bumi ini apakah kamu mau menebus siksa dengannya?’.

Dia menjawab, ‘Iya.’ Allah pun berfirman, ‘Sungguh Aku telah meminta kepadamu sesuatu yang lebih ringan daripada hal itu tatkala kamu berada di tulang sulbi Adam agar kamu tidak mempersekutukan-Ku, tetapi kamu enggan dan tetap bersikukuh melakukan syirik.’.”

[HR. Bukhari 3334 dan Muslim 2805]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang salih kesenangan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati manusia.”

[HR. Bukhari 3244 dan Muslim 2824]

1 Comment (+add yours?)

  1. Aerialsky
    Jan 01, 2014 @ 00:18:18

    Jazakallahu khair
    Ana izin share akh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: