Rangkuman Pelajaran at-Taisir Pemula Bagian 1 – 4

depositphotos_2238649-Islam

Bismillah. Berikut ini adalah rangkuman materi pelajaran ke-1 sampai pelajaran ke-4. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Perbedaan Nahwu dengan Shorof

Nahwu adalah ilmu kaidah bahasa arab yang mempelajari keadaan akhir kata di dalam kalimat, sedangkan shorof adalah ilmu kaidah bahasa arab yang mempelajari pola-pola pembentukan kata sebelum disusun dalam kalimat.

Keutamaan Ilmu Bahasa Arab

Ilmu bahasa arab adalah termasuk ilmu agama karena dengan ilmu bahasa arab kita bisa memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Oleh sebab itu mempelajari ilmu bahasa arab untuk memahami keduanya adalah kewajiban. Dari sini, kita mengetahui bahwa tujuan utama dalam belajar bahasa arab -terutama nahwu dan shorof- adalah untuk memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Apalagi seorang yang hendak menekuni dakwah, berfatwa atau menggeluti dunia tafsir, maka dia harus belajar bahasa arab.

Buah Memahami Nahwu dan Shorof

Kaidah nahwu terfokus mempelajari keadaan akhir kata di dalam kalimat. Dengan belajar nahwu kita akan tahu -misalnya- bahwa fi’il/kata kerja dalam bahasa arab itu tidak boleh diakhiri dengan tanwin. Adapun isim/kata benda maka ia bisa diakhiri tanwin. Dengan memahami shorof kita akan bisa mengetahui bahwa suatu kata kerja/fi’il itu memiliki pola atau rumus yang juga dipakai oleh kata kerja yang lain. Kata yang mengikuti rumus fa’ala misalnya adalah; ja’ala [menjadikan], amara [memerintahkan], fataha [membuka]. Semua kata kerja tersebut mengikuti rumus fa’ala.

Pembagian Kata dan Keadaan Akhirnya

Di dalam bahasa arab, kata/al-kalimah terbagi menjadi 3 yaitu; isim/kata benda, fi’il/kata kerja, dan harf/kata depan atau kata tugas. Masing-masing jenis kata memiliki kekhususan. Untuk isim, maka akhirannya ada yang tetap/mabni dan ada yang bisa berubah/mu’rob. Demikian pula halnya pada fi’il; ada yang mabni dan ada yang mu’rob. Adapun pada harf semuanya tidak bisa berubah akhirannya alias mabni.

Pengertian I’rob dan Bina’

I’rob adalah perubahan keadaan akhir kata karena perubahan kedudukan kata di dalam kalimat atau karena sebab luar yang mempengaruhinya. Contoh i’rob adalah perubahan harokat akhir dari suatu kata dari dhommah menjadi fat-hah atau kasroh. Adapun bina’ adalah tetapnya keadaan akhir kata walaupun menempati jabatan kata yang berbeda.

Pembagian Fi’il

Fi’il/kata kerja dalam bahasa arab terbagi 3, yaitu  fi’il madhi/kata kerja lampau, fi’il mudhori’/kata kerja sekarang atau akan datang, dan fi’il amr/kata perintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: