Definisi dan Contoh I’rob

images

Definisi dan Contoh I’rob

الإعْرَابُ

Pengertian I’rob

I’rob adalah perubahan keadaan akhir kata disebabkan faktor luar [‘amil] yang mempengaruhinya (lihat dalam Tuhfatus Saniyah). Dengan kata lain, akhir kata bisa berubah karena perubahan kedudukan kata di dalam kalimat.

Contoh

حَضَرَ مُحَمَّدٌ

artinya: “Telah hadir Muhammad”

Kata ‘Muhammad’ diakhiri dhommah [dibaca: Muhammadun] karena ia berkedudukan sebagai pelaku [fa’il] dari kata hadhoro [hadir].

رأيت محمداً

artinya: “Aku telah melihat Muhammad”

Kata ‘Muhammad’ diakhiri fat-hah [dibaca: Muhammadan] karena ia berkedudukan sebagai objek [maf’ul bih] dari kata ro’aitu [aku melihat]

Keterangan

Kata ‘hadhoro’ dan ‘ro’aitu’ disebut sebagai ‘amil; yaitu faktor luar yang mempengaruhi keadaan akhir kata yang terletak sesudahnya.

Kata ‘hadhoro’  [telah hadir] adalah fi’il [kata kerja] sehingga ia membutuhkan fa’il [pelaku]. Adapun kata ‘ro’aitu‘ [aku telah melihat] adalah susunan fi’il bersama fa’il sehingga ia membutuhkan objek [maf’ul bih].

Sumber Kosakata: Tuhfatus Saniyah Syarh al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: