Sekilas Mengenal Istilah Pokok Dalam Nahwu

images (1)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dalam belajar ilmu kaidah bahasa arab -khususnya nahwu- ada beberapa istilah mendasar yang semestinya dipahami, diantaranya adalah:

  1. I’rob dan Bina’
  2. Marfu’, Manshub, Majrur, dan Majzum

Pengertian I’rob dan Bina’

Di dalam bahasa arab akhiran kata ada yang tetap dan ada yang bisa mengalami perubahan. Keadaan bisa berubah atau perubahan keadaan akhir kata ini disebut dengan istilah i’rob. Singkatnya, bisa dikatakan bahwa i’rob adalahperubahan akhir kata.

Mengapa ia berubah? Ya, karena ada faktor yang mempengaruhinya. Faktor ini disebut dengan istilah ‘amil. Apabila disederhanakan lagi bisa kita katakan bahwa perubahan akhir kata ini disebabkan perubahan kedudukan atau jabatan kata di dalam kalimat. Kata yang berfungsi sebagai subjek/pelaku tidak sama akhirannya dengan kata yang menjadi objek. Walaupun katanya sama [artinya tidak berbeda], tetapi kedudukannya berlainan.

Contoh Dalam Kalimat

حَضَرَ مُحَمَّدٌ

[hadhoro Muhammadun] artinya: “Telah hadir Muhammad”

Kata ‘Muhammad’ diakhiri dhommah [dibaca: Muhammadun] karena ia berkedudukan sebagai pelaku [fa’il] dari kata hadhoro [hadir]. Keadaan kata ‘Muhammad’ yang diakhiri dengan tanda dhommah ini disebut dengan istilah marfu’. Dalam bahasa arab, Fa’il harus marfu’. Dhommah adalah tanda dasar i’rob marfu’ atau rofa’.

رأيت محمداً

[ro’aitu Muhammadan] artinya: “Aku telah melihat Muhammad”

Kata ‘Muhammad’ diakhiri fat-hah [dibaca: Muhammadan] karena ia berkedudukan sebagai objek [maf’ul bih] dari kata ro’aitu [aku melihat]. Keadaan kata ‘Muhammad’ yang diakhiri dengan tanda fat-hah ini dinamakan dengan istilah manshub. Dalam bahasa arab, Maf’ul bih harus manshub. Fat-hah adalah tanda dasar i’rob manshub atau nashob.

Berbeda halnya, apabila kata ‘Muhammad’ diganti dengan kata Haadza -misalnya- yang artinya “Ini.” Apabila kata haadza tersebut menjadi pelaku ataupun objek maka akhirannya tidak mengalami perubahan. Karena kata tersebut termasuk kelompok kata yang mabni [akhirannya tetap]. Nah, keadaan tetapnya akhir kata ini dinamakan dengan istilah bina’.

Bagaimana dengan istilah majrur dan majzum, apa maksudnya? Ya, marfu’, manshub, majrur, dan majzum adalah bagian dari i’rob. Apabila suatu kata diakhiri dengan tanda dhommah, maka ia disebut marfu’. Apabila akhirannya fat-hah disebut manshub. Apabila akhirannya kasroh, disebut majrur. Dan apabila akhirannya sukun, disebut dengan istilah majzum.

Namun, perlu diperhatikan pula, bahwa sesungguhnya tanda marfu’ bukan hanya dhommah. Tanda manshub bukan hanya fat-hah. Tanda majrur bukan hanya kasroh. Sebagaimana tanda majzum juga bukan hanya sukun. Oleh sebab itu keempat tanda ini -dhommah, fat-hah, kasroh, dan sukun- disebut dengan istilah tanda i’rob yang asli atau dasar. Masih ada tanda-tanda i’rob yang lain, hal ini menyesuaikan dengan jenis atau kategori katanya.

Contoh Dalam Kalimat

حَضَرَ رَجُلاَنِ

[hadhoro rojulaani] artinya: “Telah hadir dua orang lelaki”

Di dalam contoh ini, kata rajulaani [dua orang lelaki] berkedudukan sebagai fa’il [pelaku] oleh sebab itu ia harus dibaca marfu’. Karena dalam bahasa arab Fa’il harus marfu’. Dalam hal ini ia marfu’ dengan tanda alif. Yaitu alif yang ada sebelum nun.

Jadi di sini tanda marfu’nya bukanlah dhommah, sebab kata ‘rojulaani’ akhirannya kasroh pada huruf nun. Oleh sebab itu tandanya dialihkan pada huruf sebelumnya yaitu alif.

Apakah huruf alif ini bisa berubah nantinya? Ya bisa, apabila dia berubah i’rob dan kedudukan katanya. Seperti dalam contoh berikut:

رأيت رَجُلَيْنِ

[ro’aitu rojulaini] artinya, “Aku telah melihat dua orang lelaki.”

Di dalam contoh ini, kata rojulaini [dua orang lelaki] berkedudukan sebagai maf’ul bih [objek] oleh sebab itu ia harus dibaca manshub. Karena dalam bahasa arab maf’ul bih harus manshub. Dalam hal ini ia manshub dengan tanda ya’. Yaitu huruf ya’ mati sebelum nun.

Jadi di sini, tanda manshubnya bukanlah fat-hah, sebab kata ‘rojulaini’ akhirannya juga kasroh pada huruf nun. Oleh sebab itu tandanya dialihkan pada huruf sebelumnya yaitu ya’. Kesimpulannya, isim mutsanna [yang bermakna dua, ganda] apabila marfu’ tandanya alif dan apabila manshub tandanya adalah ya’. Dari sini juga bisa kita simpulkan, bahwa tanda i’rob itu ada yang berupa harokat akhir tapi ada juga yang berupa huruf.

Semoga dengan keterangan singkat ini bisa membantu rekan-rekan yang mengalami kesulitan dalam pelajaran nahwu. Selamat berjuang, semoga sukses. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: