Definisi dan Contoh Isim Mufrod

images

Pengertian Isim Mufrod

الاسم المفرد 

Isim mufrod [kata tunggal] adalah isim [kata benda] yang menunjukkan kepada bilangan satu/tunggal, semisal; sebuah…, seorang…, seekor…, dsb.

Contoh Isim Mufrod

رَجُلٌ

[rojulun] artinya: “Seorang lelaki”

أَسَدٌ

[asadun] artinya: “Seekor singa”

Tanda I’rob Isim Mufrod

Sebagaimana sudah diterangkan sebelumnya, bahwa i’rob adalah perubahan keadaan akhir kata karena perbedaan jabatan kata di dalam kalimat. Nah, isim mufrod juga bisa mengalami perubahan akhir kata:

1. Marfu’ dengan tanda dhommah di akhirnya

2. Manshub dengan tanda fat-hah di akhirnya

3. Majrur dengan tanda kasroh di akhirnya

Contohnya, kata asad [singa] di atas. Apabila marfu’ ia dibaca asadun [dhommah akhirannya]. Apabila manshub dibaca asadan [fat-hah akhirannya]. Dan apabila majrur ia dibaca asadin [kasroh akhirannya].

Catatan

Isim mufrod  bisa diberi alif lam [al] di awalnya. Apabila ia diberi alif lam maka  tidak boleh ditanwin akhirannya. Tanda i’robnya tetap sama; marfu’ dengan dhommah, manshub dengan fat-hah, dan majrur dengan kasroh.

Sumber Kosakata: Tuhfatus Saniyah Syarh al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: