Tanya Jawab Ringan Seputar Nahwu

Electronic world (system board with globe)

Tanya: Apa yang dimaksud ilmu nahwu?

Jawab: Ilmu nahwu adalah llmu kaidah bahasa arab yang mempelajari keadaan akhir kata dalam suatu kalimat. Keadaan akhir kata ada yang tetap dan ada yang berubah.

Apabila ia berubah bagaimana bentuk perubahan dan sebab-sebabnya, itu semua dipelajari dalam ilmu nahwu. Suatu kata yang sama bisa memiliki akhiran berbeda karena kedudukan atau jabatan kata yang berlainan.

Tanya: Apa yang dimaksud dengan istilah i’rob?

Jawab: I’rob adalah perubahan keadaan akhir kata dalam bahasa arab dikarenakan faktor luar yang mempengaruhinya atau karena perbedaan jabatan kata. Misalnya, kata itu berubah dari dhommah menjadi fathah atau kasroh.

Tanya: Apa yang dimaksud dengan istilah bina’?

Jawab: Bina’ adalah tetapnya keadaan akhir kata walaupun menempati jabatan kata yang berbeda. Apabila akhirannya selalu dhommah -misalnya- dikatakan ia mabni atas dhommah. Apabila akhhirannya selalu fathah, dikatakan ia mabni atas fathah, dst.

Tanya: Apa yang dimaksud mu’rob dan mabni?

Jawab: Kata yang akhirannya bisa berubah disebut kata yang mu’rob, sedangkan kata yang akhirannya selalu tetap dinamakan kata yang mabni.

Tanya: Kata dalam bahasa arab terbagi berapa?

Jawab: Dalam bahasa arab kata [al-kalimah] terbagi menjadi 3; isim [kata benda], fi’il [kata kerja], dan harf [kata depan atau kata tugas].

Tanya: Apakah semua isim itu akhirannya bisa berubah?

Jawab: Isim [kata benda] ada yang akhirannya berubah; disebut dengan isim mu’rob, dan ada juga yang akhirannya selalu tetap; dinamakan dengan isim mabni.

Tanya: Apa yang dimaksud isim mu’rob?

Jawab: Isim mu’rob adalah isim [kata benda] yang akhirannya bisa berubah, misalnya dari dhommah menjadi fat-hah atau kasroh. Ia berubah karena perubahan kedudukan kata.

Tanya: Apa yang dimaksud dengan istilah marfu’?

Jawab: Marfu’ adalah sebutan untuk keadaan akhir kata dalam bahasa arab yang ditandai dengan harokat akhir dhommah atau tanda lain yang menggantikannya. Sederhananya bisa dikatakan bahwa kalau akhirannya dhommah itu adalah marfu’. Kalau akhirannya fathah dinamakan manshub. Dan kalau akhirannya kasroh disebut majrur. Dan apabila akhirannya sukun disebut majzum; tapi majzum ini hanya ada pada fi’il [kata kerja].

Tanya: Apakah fi’il juga bisa berubah akhirannya?

Jawab: Fi’il ada yang mu’rob dan ada yang mabni. Fi’il yang mu’rob adalah fi’il yang bisa berubah akhirannya, sedangkan fi’il yang mabni akhirannya selalu tetap.

Tanya: Fi’il ada berapa macam?

Jawab: Fi’il [kata kerja] terbagi tiga; fi’il madhi [kata kerja lampau], fi’il mudhori’ [kata kerja sekarang atau akan datang], dan fi’il amr [kata perintah].

Tanya: Fi’il yang akhirannya tetap apa saja?

Jawab: Fi’il yang tetap akhirannya adalah fi’il madhi, fi’il amr, dan sebagian fi’il mudhori’. Jadi, fi’il mudhori’ ada yang akhirannya tetap dan ada yang akhirannya bisa berubah.

Tanya: Fi’il mudhori’ yang tetap yang bagaimana?

Jawab: Fi’il mudhori’ apabila bersambung dengan nun inats atau nun taukid/penegas maka ia mabni/akhirannya selalu tetap dan tidak bisa berubah. Apabila tidak bersambung dengan salah satu diantara kedua huruf itu maka ia mu’rob/bisa berubah.

Tanya: Apa yang dimaksud dengan nun inats dan nun taukid?

Jawab: Nun inats adalah huruf nun di akhir fi’il mudhori’ yang menunjukkan kata ganti jamak perempuan; dibaca ‘na’. Misalnya ‘yaktubna’ artinya, “Sedang menulis [mereka perempuan].” Adapun nun taukid adalah nun tasydid yang memberikan makna penekanan atau sungguh-sungguh; dibaca …nna. Misalnya ‘yaktubanna’ artinya “[dia] benar-benar sedang menulis.”

Tanya: Apa perbedaan antara isim dengan fi’il?

Jawab: Isim [kata benda] tidak berubah menurut perubahan waktu, sedangkan fi’il [kata kerja] berubah menurut perubahan waktu. Atau bisa juga dikatakan bahwa fi’il memiliki penunjukan latar belakang waktu kejadian, sedangkan isim tidak menunjukkan latar belakang waktu kejadian.

Tanya: Apa yang dimaksud dengan istilah isim mufrod?

Jawab: Isim mufrod adalah kata benda tunggal, menunjukkan kepada suatu benda atau seseorang yang jumlahnya satu. Apabila menunjukkan dua disebut dengan istilah mutsanna. Untuk membuat isim mutsanna bisa ditambah dengan akhiran alif dan nun atau ya’ dan nun.

Bersambung insya Allah…

1 Comment (+add yours?)

  1. mai mun
    Jan 30, 2014 @ 23:25:29

    Kalau ya’ dan nun dalam kalimat
    astaghfiruallah yana hal adzim.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: