Ikhlas Dalam Beribadah

images (2)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mensyariatkan kepada kalian sesuatu ajaran agama yang juga Allah wasiatkan kepada Nuh…” (QS. asy-Syura: 13)

Abul Aliyah berkata seraya menafsirkan ayat ini, “Maksudnya, Allah mewasiatkan kepada mereka semua untuk ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.” (Fath al-Bari [1/13])

Ibnu Katsir menerangkan, “Agama yang dibawa oleh segenap rasul ialah beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [7/147]).

Kemudian, beliau -Ibnu Katsir- menyebutkan dalil yang memperkuat pernyataan tersebut, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tiada sesembahan -yang benar- selain Aku, oleh sebab itu sembahlah Aku [semata].” (QS. al-Anbiya’: 25)

Hal ini menunjukkan kepada kita, bahwa ikhlas merupakan perkara yang sangat penting, bahkan ia menjadi pokok ajaran agama seluruh nabi dan rasul. Artinya, siapa pun yang mengabaikan masalah ikhlas maka sesungguhnya dia telah melalaikan pokok ajaran agama para nabi dan rasul.

Siapakah yang dimaksud al-Mukhlishun (orang-orang yang ikhlas)? Tsa’lab berkata, “Yaitu orang-orang yang mengikhlaskan/memurnikan ibadahnya untuk Allah ta’ala, dan mereka itulah orang-orang yang dipilih oleh Allah ‘azza wa jalla. Sehingga orang-orang yang ikhlas itu adalah orang-orang pilihan. Orang-orang yang ikhlas adalah orang-orang yang bertauhid. Adapun yang dimaksud dengan kalimatul ikhlas adalah kalimat tauhid.” (Dikutip dari Ta’thir al-Anfas, hal. 85)

Ikhlas terletak di dalam hati, dan ia menghadapi berbagai macam kotoran yang sewaktu-waktu dapat merusak kejernihannya. al-Munawi berkata, “Ikhlas itu adalah membersihkan hati dari berbagai kotoran yang merusak kejernihannya.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 85)

Orang yang ikhlas merasa cukup Allah sebagai saksi atas amalannya. al-Jurjani berkata, “Ikhlas yaitu kamu tidak ingin mencari saksi atas amalmu kepada selain Allah.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 86)

Orang yang benar-benar ikhlas merasa dirinya belum ikhlas. as-Susi berkata, “Ikhlas itu adalah dengan tidak memandang diri telah ikhlas. Karena barangsiapa yang mempersaksikan kepada orang lain bahwa dirinya benar-benar telah ikhlas itu artinya keikhlasannya masih belum sempurna.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 86)

Orang yang ikhlas lebih mengutamakan penilaian Allah daripada penilaian manusia. Abu Utsman al-Maghribi berkata, “Ikhlas adalah melupakan pandangan orang dengan senantiasa memperhatikan pandangan Allah. Barangsiapa yang menampilkan dirinya berhias dengan sesuatu yang tidak dimilikinya niscaya akan jatuhlah kedudukannya di mata Allah.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 86)

Oleh sebab itu, seorang muslim tidak akan rela mempersembahkan ibadah apa pun kepada selain Allah, entah itu sholat, sembelihan, ataupun ibadah-ibadah yang lain. Sama saja, apakah selain Allah itu berujud malaikat, nabi, ataupun wali.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, adalah untuk Allah Tuhan seru sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku termasuk orang yang pertama-tama pasrah.” (QS. al-An’am: 162-163).

Allahul musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: