Buku Panduan Program at-Taisir [1]

64585_177776442346077_1874843271_n

Level Pemula

Semester Pertama

Pelajaran Ke-1

Bab: Pengantar Ilmu Nahwu dan Shorof

Sub Bab: Pengenalan Istilah Nahwu dan Shorof

Pengertian Ilmu Nahwu

Nahwu adalah suatu ilmu mengenai kaidah-kaidah untuk mengetahui hukum-hukum akhir kata di dalam bahasa arab.

Contohnya:

جَاءَ رَجُلٌ                     

‘Jaa’a rojulun’ artinya: “Telah datang seorang lelaki.”

رَأَيْتُ رَجُلاً

‘ro’aitu rojulan’ artinya: “Aku melihat seorang lelaki.”

مَرَرْتُ بِرَجُلٍ

‘marortu bi rojulin’ artinya: “Aku melewati seorang lelaki.”

[lihat at-Tashil fi Ma’rifati Lughoti at-Tanzil, hal. 7]

Keterangan:

Perhatikan kata rojul [lelaki] di dalam ketiga kalimat di atas. Kata ‘rojul’ artinya seorang lelaki. Meskipun demikian, akhir katanya bisa berubah. Bisa berharokat dhommah [rojulun]. Bisa juga berharokat fat-hah [rojulan]. Dan bisa juga berharokat kasroh [rojulin].

Nah, ilmu untuk mengetahui kaidah-kaidah yang mengatur keadaan akhir kata semacam ini dikenal dengan istilah ilmu nahwu. Jadi, fokus ilmu nahwu adalah mengenai akhir kata di dalam kalimat. Apakah ia harus diakhiri dhommah, fat-hah, atau kasroh, dst.

Pengertian Ilmu Shorof

Shorof -disebut juga ilmu tashrif- merupakan ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah yang mengatur seputar perubahan/pembentukan kata di dalam bahasa arab.

Contohnya:

نَصَرَ

Kata ‘nashoro’ artinya ‘menolong’

Kata ini bisa diubah menjadi bentuk kata yang lain, misalnya:

نَاصِرٌ

‘naashirun’ artinya ‘penolong’

Bisa juga diubah menjadi:

اُنْصُرْ

‘unshur’ artinya ‘tolonglah’

[lihat at-Tashil fi Ma’rifati Lughoti at-Tanzil, hal. 7]

Keterangan:

Kata ‘nashoro’ [telah menolong] merupakan bentuk kata kerja lampau; bentuk kata ini dikenal dengan istilah fi’il madhi [kata kerja lampau]. Dari kata ini bisa dibentuk kata yang mengandung makna pelaku yaitu ‘naashirun’ [penolong]; bentuk kata semacam ini dikenal dengan istilah isim fa’il [kata benda pelaku]. Bisa juga dibentuk kata yang lain, yaitu ‘unshur’ [tolonglah] yang ia merupakan kata kerja perintah [fi’il amr].

Kaidah-kaidah yang mengatur seputar pembentukan dan perubahan kata inilah yang dikenal dengan nama ilmu shorof atau tashrif. Bagi yang ingin mengetahui tambahan penjelasan seputar definisi tashrif bisa membaca kitab Mukhtarot karya Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron hafizhahullah (hal. 117, cet. 1432 H)

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa:

  1. Ilmu nahwu membahas keadaan akhir kata di dalam bahasa arab
  2. Ilmu shorof membahas pembentukan kata di dalam bahasa arab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: