Buku Panduan Program at-Taisir [2]

safe_image

Level Pemula

Semester Pertama

Pelajaran Ke-2

Bab: Pengantar Ilmu Nahwu dan Shorof

Sub Bab: Urgensi Ilmu Nahwu dan Shorof

Pentingnya Bahasa Arab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bahasa arab itu sendiri merupakan bagian dari agama dan mengenalinya adalah sebuah perkara yang fardhu lagi wajib. Sesungguhnya memahami al-Kitab dan as-Sunnah adalah wajib, sementara ia tidak bisa dipahami kecuali dengan bahasa arab. Suatu kewajiban yang tidak bisa terlaksana kecuali dengan suatu hal yang lain maka perkara itu menjadi wajib pula hukumnya.” (lihat dalam Fadhlu al-‘Arabiyyah, oleh Syaikh Ruslan, hal. 71)

Ilmu bahasa arab ini -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah- termasuk kategori ilmu yang bermanfaat. Beliau berkata, “Adapun ilmu nafi’/ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa mensucikan hati dan ruh yang pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ilmu itu adalah ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meliputi ilmu tafsir, hadits, dan fiqih serta segala ilmu yang menopang atau membantunya semacam ilmu-ilmu bahasa arab…” (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 42)

Ustadz Aceng Zakaria -semoga Allah membalas kebaikannya- mengatakan, “Sesungguhnya kebutuhan setiap muslim untuk mengenali kaidah-kaidah bahasa arab adalah sangat mendesak. Sebab, ilmu itulah yang menjadi ‘jembatan’ untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan keduanya dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Sementara tidak mungkin kita bisa memahami keduanya dengan pemahaman yang sempurna kecuali setelah mengetahui kaidah-kaidah bahasa arab.” (lihat mukadimah beliau terhadap kitabnya al-Muyassar fi ‘Ilmi an-Nahwi)

Pentingnya Nahwu dan Shorof

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa ilmu nahwu membahas seputar kaidah yang mengatur keadaan akhir kata dan kedudukan kata di dalam bahasa arab. Adapun ilmu shorof adalah ilmu tentang kaidah-kaidah pembentukan kata dan pola-polanya. Lalu dimanakah letak pentingnya kedua ilmu tersebut?

Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan, “Ilmu nahwu termasuk kategori ilmu-ilmu islam yang sangat penting yang semestinya kaum muslimin memiliki perhatian besar terhadapnya. Sebab musuh-musuh Islam berusaha untuk menjauhkan umat Islam dari bahasa agama mereka. Mereka berusaha menyibukkan umat Islam dengan hal-hal yang bukan termasuk perkara mendesak dan penting di dalam agama mereka.” (lihat dalam al-Mumti’ fi Syarh al-Ajurrumiyah, hal. 5 oleh Malik bin Salim al-Mahdzari)

Buah mempelajari ilmu nahwu adalah untuk menjaga lisan dari kekeliruan dalam hal pengucapan kalimat-kalimat berbahasa arab. Selain itu -bahkan tujuan utamanya- ilmu nahwu menjadi sebab untuk bisa memahami al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar. Sementara kita telah mengetahui bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah ini merupakan dua sumber utama syari’at Islam (lihat dalam Tuhfatus Saniyah, oleh Syaikh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, hal. 4)

Mengetahui ilmu nahwu dan shorof merupakan salah satu syarat untuk berijtihad. Salah seorang ulama bermadzhab Hanafi, al-Anshari mengatakan, “Salah satu syarat seorang mujtahid adalah harus mengerti tashrif, nahwu, dan bahasa.” (lihat at-Ta’liqat al-Jaliyyah, hal. 48 oleh Abu Anas Asyraf bin Yusuf).

Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani berkata ketika menjelaskan syarat-syarat ijtihad, diantaranya; “Hendaklah dia mengetahui bahasa arab, dan cukup dalam hal ini sekadar apa yang memang wajib untuk dia miliki agar bisa memahami ucapan [berbahasa arab].” (lihat Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah, hal. 479)

Selain itu, ilmu tentang bahasa arab -khususnya nahwu dan shorof- juga termasuk ilmu yang harus dimiliki oleh seorang yang hendak menekuni ilmu tafsir al-Qur’an. Seorang ahli tafsir harus menguasai kedua ilmu ini di samping ilmu-ilmu lain yang harus dikuasainya semacam; ushul fiqih, asbabun nuzul, dsb (lihat dalam Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, hal. 331 oleh Syaikh Manaa’ al-Qaththan)

Syaikh Dr. Abdul Karim al-Khudair hafizhahullah berkata, “Pemahaman terhadap dalil-dalil ditopang oleh pemahaman terhadap bahasa [arab], oleh sebab itu tidak mungkin seorang penuntut ilmu syar’i mencukupkan diri dari [ilmu] bahasa ini. Dan diantara ilmu bahasa [arab], yang terpenting adalah nahwu dan shorof.” (lihat Transkrip Syarh Matan al-Ajurruumiyah Bagian 1, hal. 1)

Apabila ilmu nahwu membicarakan tentang perubahan yang terjadi pada akhir kata dalam bahasa arab, maka ilmu shorof membahas perubahan bentuk dan bangunan kata dari dalam serta pola-pola penyusunannya. Oleh sebab itu kedua ilmu ini memiliki kaitan yang sangat erat. Orang yang mempelajari ilmu nahwu semestinya juga mempelajari ilmu shorof (lihat ad-Dalil ila Qawa’id al-Lughah al’Arabiyah, hal. 17-18 oleh Dr. Hasan Nuruddin)

Shorof atau Tashrif memiliki makna secara bahasa [lughowi] dan makna secara terminologi [istilahi]. Secara bahasa kedua kata ini dipakai dalam bahasa arab dengan arti; pengalihan atau perubahan. Adapun secara istilah, kedua kata ini dipakai oleh ulama ahli bahasa arab untuk menyebut ilmu yang menjelaskan metode pembentukan pola kata dalam bahasa arab. Dengan ilmu inilah diketahui proses pembentukan kata; yaitu perubahan dari satu kata menjadi kata-kata lain yang memiliki makna berkaitan (lihat Durus at-Tashrif, hal. 4-5 karya Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid)

Pada awal perkembangannya, pembahasan shorof adalah bagian dari ilmu nahwu. Ilmu nahwu membahas tentang keadaan akhir kata yaitu perubahan [i’rob] atau tetapnya [bina’] akhir kata, sedangkan ilmu shorof membahas pembentukan kata dan makna yang ditunjukkan olehnya (lihat dalam Durus at-Tashrif, hal. 5-8).

Oleh sebab itu para pakar bahasa arab masa belakangan hanya mengkhususkan pembicaraan ilmu nahwu hanya pada keadaan akhir kata; perubahan akhir kata dan tetapnya akhir kata. Sehingga dengan sendirinya materi yang dibicarakan dalam nahwu berbeda dengan ilmu shorof; yang notabene membahas pembentukan kata (lihat Mu’jam al-Mushthalahat an-Nahwiyah wa ash-Shorfiyah, hal. 217-218)

Kesimpulan

Dari keterangan-keterangan di atas kita bisa menarik beberapa kesimpulan penting:

  1. Mempelajarai ilmu nahwu dan shorof merupakan sarana untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah
  2. Memahami nahwu dan shorof merupakan pondasi untuk memahami hukum-hukum agama yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah
  3. Memahami ilmu bahasa arab -terutana kaidah-kaidahnya- adalah salah satu syarat yang harus dimiliki bagi orang yang hendak berijtihad
  4. Setiap penuntut ilmu sangat membutuhkan pemahaman terhadap ilmu nahwu dan shorof karena dengan kedua ilmu itulah dia akan bisa memahami berbagai cabang ilmu agama yang lain, semisal tafsir, hadits, dan fiqih
  5. Ilmu nahwu dan shorof termasuk kategori ilmu alat/sarana untuk memahami dalil-dalil al-Kitab maupun as-Sunnah. Sementara hukum sarana mengikuti hukum tujuan. Apabila memahami al-Kitab dan as-Sunnah adalah wajib, sedangkan keduanya tidak bisa dipahami dengan baik kecuali dengan bahasa arab maka mempelajari bahasa arab pun menjadi perkara yang hukumnya wajib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: