Kunci-Kunci Kesuksesan

wpid-kunci1

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)

Di dalam surat al-‘Ashr yang telah banyak dihafal oleh kaum muslimin ini, Allah ta’ala menunjukkan kepada kita kunci-kunci kesuksesan. Kunci-kunci tersebut adalah: ilmu, iman, takwa, amal salih, mendakwahkan kebenaran, dan menempa kesabaran. Barangsiapa yang menginginkan kesuksesan yang sebenarnya, maka dia harus memiliki kunci-kunci ini…

[1] Ilmu, Iman, dan Takwa

Ilmu merupakan dasar ucapan dan perbuatan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu atasnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabnya.” (QS. al-Isra’: 36).

Dengan ilmu, maka orang akan bisa membedakan antara keimanan dengan kekafiran, antara tauhid dengan syirik, antara taat dengan maksiat, antara baik dan buruk, antara halal dan haram, antara sunnah dengan bid’ah. Sehingga ilmu senantiasa dibutuhkan sepanjang waktu.

Iman dan takwa merupakan buah ilmu yang sejati dan kunci keselamatan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, merasa takut kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. an-Nur: 52)

al-Marudzi mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”. Maka beliau menjawab, “Bagaimanakah keadaan seorang hamba yang Rabbnya senantiasa menuntutnya untuk menunaikan kewajiban-kewajiban. Nabinya juga menuntut dirinya untuk mengerjakan Sunnah/tuntunannya. Begitu pula, dua malaikat yang menuntutnya untuk memperbaiki amalan. Sementara hawa nafsu menuntut dirinya untuk memperturutkan kemauannya. Iblis mengajaknya untuk melakukan berbagai perbuatan keji. Malaikat maut juga menunggu-nunggu untuk mencabut nyawanya. Dan di sisi yang lain, anak dan istrinya pun menuntut untuk diberikan nafkah?!” (lihat Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, beliau berpesan, “Hisablah diri kalian sebelum kelak kalian dihisab -di hari kiamat-. Timbanglah amal-amal kalian sebelum kelak -amal- kalian ditimbang. Karena itu akan lebih ringan di timbangan kalian esok -di akherat- dengan kalian menghisab diri kalian pada hari ini -di dunia-. Hiasilah diri kalian -dengan takwa- untuk menyambut hari persidangan yang besar, yang pada hari itu kalian akan disidang dan tiada satu perkarapun yang tersembunyi dari kalian.” (lihat Ighatsat al-Lahfan)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah menyibukkan diri dengan amalan sunnah sembari melalaikan perkara yang wajib. Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam)

Termasuk dalam cakupan takwa adalah membenarkan berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Hendaknya seorang insan selalu bertakwa kepada Allah, baik di saat bersendirian maupun berada di tengah keramaian (lihat Fath al-Qawiy al-Matin)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menerangkan, bahwa tercakup dalam ketakwaan -bahkan merupakan derajat ketakwaan yang tertinggi- adalah dengan melakukan berbagai perkara yang disunnahkan (mustahab) serta meninggalkan berbagai perkara yang makruh, tentu saja apabila yang wajib telah ditunaikan dan haram ditinggalkan (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam)

Ketakwaan yang hakiki adalah ketakwaan yang berakar dari dalam lubuk hati, bukan sekedar ucapan yang indah dan penampilan yang mengagumkan. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Ketakwaan yang hakiki adalah ketakwaan dari dalam hati bukan semata-mata ketakwaan dengan anggota badan.” (lihat al-Fawa’id).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan perintah-perintah Allah, sesungguhnya hal itu lahir dari ketakwaan di dalam hati.” (QS. al-Hajj: 32)

[2] Amal Salih

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.” (QS. al-Kahfi: 110).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam)

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan. Kalau seorang hamba memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya maka dia telah mengikuti jalannya orang-orang yang dimurkai (al-maghdhubi ‘alaihim). Adapun apabila dia beramal namun tanpa landasan ilmu maka dia telah mengikuti jalannya orang-orang yang sesat (adh-dhaallin). Apabila ilmu dan amal itu berjalan beriringan maka dia telah berada di atas jalannya orang-orang yang diberi karunia oleh Allah; yaitu jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” (QS. al-Fatihah: 7).

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan kepada mereka itu adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah)

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak pada hari kiamat didatangkan seorang lelaki, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka. Usus perutnya pun terburai. Dia berputar-putar seperti seekor keledai mengelilingi alat penggilingan. Para penduduk neraka berkumpul mengerumuninya. Mereka pun bertanya kepadanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi padamu. Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar?”. Dia menjawab, “Benar. Aku dulu memang memerintahkan yang ma’ruf tapi aku tidak melaksanakannya. Aku juga melarang yang mungkar tetapi aku justru melakukannya.”.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr menceritakan: Suatu saat aku mengunjungi salah seorang bapak tua yang rajin beribadah di suatu masjid tempat dia biasa mengerjakan sholat. Beliau adalah orang yang sangat rajin beribadah. Ketika itu dia sedang duduk di masjid -menunggu waktu sholat- aku pun mengucapkan salam kepadanya dan berbincang-bincang dengannya. Aku berkata, “Masya Allah, di daerah kalian ini banyak terdapat para penuntut ilmu.” Dia berkata, “Daerah kami ini!”. Kukatakan, “Iya benar, di daerah kalian ini masya Allah banyak penuntut ilmu.” Dia berkata, “Daerah kami ini!”. Dia mengulangi perkataannya kepadaku dengan nada mengingkari. “Daerah kami ini?!”. Kukatakan, “Iya, benar.” Maka dia berkata, “Wahai puteraku! Orang yang tidak menjaga sholat berjama’ah tidak layak disebut sebagai seorang penuntut ilmu.” (lihat Tsamrat al-‘Ilmi al-‘Amal)

[3] Mendakwahkan Kebenaran

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman lelaki maupun perempuan, satu sama lain menjadi penolong, mereka memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.” (QS. at-Taubah: 71).

Setelah seorang hamba mengetahui kebenaran dan mengamalkannya semestinya dia juga mengajak orang lain untuk meniti jalan keselamatan bersama-sama. Dengan dakwah maka ia akan turut membantu menyempurnakan orang lain dengan mengingatkan mereka kepada perintah dan larangan Allah.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku. Aku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan maha suci Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Dalam berdakwah harus memperhatikan prioritas perkara terpenting sebelum perkara penting yang lain. Sedangkan perkara terpenting yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh setiap orang tanpa kecuali di segala kondisi adalah tauhid. Tauhid itulah tujuan penciptaan dan misi dakwah para rasul.

Dari Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama ini adalah nasehat.” Beliau mengucapkannya tiga kali. Maka kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla, beriman kepada Kitab-Nya, taat kepada Rasul-Nya, memberikan nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin serta nasehat bagi orang-orang biasa (rakyat) diantara mereka.” (HR. Muslim)

[4] Menempa Kesabaran

Seorang yang mempelajari ilmu, berusaha untuk mengamalkan dan mendakwahkannya tentu membutuhkan kesabaran. Karena ia akan menghadapi berbagai macam bentuk cobaan dan hambatan di tengah perjalanan. Apabila dia tidak sabar maka bisa jadi dia akan meninggalkan perintah, menerjang larangan, atau menyikapi musibah dengan tindakan-tindakan yang dilarang.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berilmu, beriman, bertakwa, beramal salih, mendakwahkan kebenaran, dan selalu berjuang menempa kesabaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: