Bimbingan Belajar I’rob dan Terjemah Bagian 1

Electronic world (system board with globe)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, belajar bahasa arab dan membaca kitab gundul adalah sarana untuk memahami agama Islam. Dengan demikian sangat penting bagi setiap muslim untuk bersemangat dalam mempelajarinya apabila dia memiliki kemampuan dan kelapangan untuk itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari – Muslim)

Ilmu kaidah bahasa arab -dalam hal ini nahwu dan shorof- adalah penting untuk dikaji dengan serius. Dengan menguasai kedua ilmu ini maka akan sangat membantu bagi para penimba ilmu dalam memahami ayat-ayat ataupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ilmu nahwu, seorang akan bisa memahami maksud dari kalimat dan menempatkan setiap kata pada kedudukannya masing-masing. Dengan ilmu shorof, seorang akan bisa memahami proses pembentukan kata dan pola-polanya.

Dalam ilmu nahwu kita mengenal istilah i’rob, yaitu perubahan keadaan akhir kata dikarenakan faktor luar/’amil yang mempengaruhinya. Bisa juga dikatakan bahwa i’rob adalah perubahan keadaan akhir kata karena perbedaan jabatan kata. I’rob memiliki fokus pembahasan tentang akhir kata dan sebab-sebabnya.

Namun, yang dimaksud dengan istilah i’rob di sini adalah suatu pemaparan mengenai kedudukan kata itu di dalam kalimat. Misalnya, kita katakan bahwa ‘Muhammad’ dalam kalimat ‘jaa’a Muhammadun’ berkedudukan sebagai fa’il/pelaku dan ia marfu’ dengan tanda dhommah. Inilah yang disebut dengan i’rob; yaitu penggambaran/deskripsi kedudukan atau jabatan setiap kata di dalam suatu kalimat.

Memahami tata-cara i’rob ini sangat erat kaitannya dengan kemampuan penerjemahan. Karena dengan mengetahui i’rob akan sangat memudahkan bagi penerjemah dalam menyusun terjemahannya agar bisa dipahami oleh pembaca dengan mudah.

Salah satu contoh buku I’rob yang pernah kami baca adalah kitab Amtsilatul I’rob dan juga al-Minhaj fil Qawa’id wal ‘I’rob. Demikian pula apabila kita belajar kitab Mulakhosh maka di dalamnya juga sudah dipraktekkan tata-cara i’rob di dalam penjelasan-penjelasannya, dan ini semua sangat membantu kita.

Kunci untuk belajar i’rob dan terjemah -setelah taufik dari Allah- adalah tekad yang kuat dan ketekunan dalam berlatih membaca kitab ulama. Utamakanlah kitab-kitab yang ringkas dan mudah ditelaah semacam kitab-kitab dalam pelajaran tauhid. Dengan demikian, kita akan bisa memetik dua faidah sekaligus; belajar bahasa arab sekaligus belajar ilmu tauhid dan akidah Islam; ilmu yang sangat penting dalam pembentukan jati diri seorang muslim dan muslimah.

Kiranya demikian sedikit pemaparan ringkas dari kami sebagai pengantar pelajaran ini. Semoga Allah memberikan kepada kita keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: