Mukadimah

images

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada seorang hamba-Nya -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- al-Furqon [pembeda, yaitu al-Qur’an]; yang memisahkan antara perkara yang halal dan perkara yang haram. Sebuah pedoman yang membedakan antara orang-orang yang berbahagia dengan orang-orang yang celaka. Sebuah pedoman yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Dengan rahmat-Nya, Allah menjadikan ia [al-Qur’an] sebagai petunjuk bagi umat manusia secara umum dan terlebih khusus lagi menjadi pembimbing bagi orang-orang yang bertakwa. Pembimbing guna mengentaskan mereka dari kesesatan berupa kekafiran, maksiat, dan kebodohan menuju cahaya iman, takwa, dan ilmu pengetahuan.

Allah turunkan ia [al-Qur’an] sebagai obat bagi apa yang bersarang di dalam dada-dada [manusia], berupa penyakit syubhat [kerancuan dan kesamaran] serta syahwat [hawa nafsu]. Dengan al-Qur’an itulah, akan diperoleh keyakinan dan ilmu dalam rangka meraih berbagai cita-cita yang mulia. Ia menjadi obat bagi tubuh manusia guna menyembuhkan berbagai penyakit, kerusakan, dan luka yang diderita olehnya.

Allah memberitakan bahwa al-Qur’an tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya; dari sisi manapun. Hal itu dikarenakan berita-berita yang terkandung di dalamnya berisi kebenaran yang sangat agung, demikian pula perintah dan larangan yang ada di dalamnya.

Allah turunkan ia penuh dengan keberkahan; di dalamnya terkandung banyak kebaikan, ilmu yang melimpah, rahasia-rahasia yang teramat indah, cita-cita yang tinggi. Oleh sebab itulah segala kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebab utamanya adalah mengambil bimbingan al-Qur’an dan mengikuti ajarannya… (lihat pengantar kitab Taisir al-Karim ar-Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, hal. 29 cet. Ar-Risalah)

Kembali Kepada al-Kitab dan as-Sunnah

Saudaraku -semoga Allah menuntun kita kepada rahmat dan ampunan-Nya- agama Islam yang kita cintai ini telah memberikan pedoman hidup bagi umat manusia. al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah kunci untuk memecahkan berbagai problematika dan sengketa yang terjadi di tengah-tengah umat manusia.

Allah ta’ala berfirman,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang suatu perkara, hendaklah kalian kembalikan hal itu kepada Allah dan Rasul; jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Imam al-Baghawi rahimahullah (wafat 516 H) menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ adalah; kembali kepada kitab Allah dan kepada Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di saat beliau masih hidup dan kepada Sunnahnya di saat beliau telah meninggal (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 313)

Demikianlah penafsiran ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ yang dinukilkan dari Mujahid, Qotadah, serta mayoritas ulama tafsir; sebagaimana diungkap oleh Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat 597 H) dalam tafsirnya (lihat Zaad al-Masir fi ‘Ilmi at-Tafsir, hal. 295)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat 751 H) mengatakan, “Telah sepakat para ulama terdahulu [salaf] dan belakangan [kholaf] bahwasanya maksud dari kembali kepada Allah adalah dengan mengembalikan kepada Kitab-Nya, sedangkan kembali kepada Rasul adalah dengan mengembalikan kepada beliau semasa hidupnya dan kepada Sunnahnya setelah beliau wafat.” (lihat dalam adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir yang dikumpulkan oleh Syaikh ‘Ali ash-Shalihi rahimahullah [2/236])

Imam al-Qurthubi rahimahullah (wafat 671 H) berkata, “Barangsiapa yang tidak memandang sebagaimana hal ini -wajibnya merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah, pent- maka sungguh telah cacat keimanannya berdasarkan firman Allah ta’ala ‘Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir’.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [6/433])

Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) mengomentari ayat di atas, “Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mau berhukum dalam hal-hal yang diperselisihkan kepada al-Kitab dan as-Sunnah serta tidak merujuk kepada keduanya dalam menyelesaikan masalah itu, maka pada hakikatnya dia bukanlah orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [2/346])

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) berkata, “Hal itu menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mengembalikan hal-hal yang diperselisihkan kepada keduanya -al-Qur’an dan as-Sunnah- maka dia bukanlah seorang mukmin yang sebenarnya; bahkan dia adalah orang yang beriman kepada thoghut, sebagaimana disebutkan pada ayat sesudahnya.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 184)

Saudaraku -semoga Allah menambahkan taufik-Nya kepada kami dan anda- dari keterangan-keterangan para ulama di atas, jelaslah bagi kita urgensi memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Sebab dengan memahami keduanya dengan baik akan menjadi solusi atas segala persengketaan dan perselisihan umat manusia. Di samping itu, keimanan seorang hamba akan menjadi sempurna dan lurus dengan mengembalikan segala masalah agama kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan Mempelajari Ilmu Agama

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu mengatakan, “Pelajarilah ilmu. Sesungguhnya mempelajari ilmu karena Allah adalah bentuk rasa takut -kepada-Nya- dan menuntutnya adalah ibadah. Mengajarkannya adalah tasbih (penyucian terhadap Allah). Membahas tentangnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah. Mencurahkannya kepada orang yang layak menerimanya adalah qurbah/ibadah-; ilmu itulah penenang di saat sendirian dan sahabat pada waktu kesepian.” (lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 15)

Allah ta’ala berfirman.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu berderajat-derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan Kitab ini -al-Qur’an- dan merendahkan sebagian yang lain dengannya.” (HR. Muslim)

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Mempelajari dan mengingat-ingat ilmu pada sebagian malam lebih aku sukai daripada menghidupkan malam -dengan sholat sunnah-.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu amalan yang lebih utama daripada menimba ilmu jika disertai dengan niat yang lurus.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26)

Qatadah rahimahullah berkata, “Sebuah bab dalam ilmu yang dijaga/dihafal oleh seorang demi kebaikan dirinya sendiri dan kebaikan orang sesudahnya itu jauh lebih utama daripada beribadah setahun penuh.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui di atas muka bumi ini suatu amalan yang lebih utama daripada menuntut ilmu dan mempelajari hadits yaitu bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan lurus niatnya.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 27)

Abu Ja’far al-Baqir Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain rahimahullah berkata, “Seorang alim [ahli ilmu] yang memberikan manfaat dengan ilmunya itu lebih utama daripada tujuh puluh ribu orang ahli ibadah.” (lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Meriwayatkan hadits dan menyebarkannya di tengah-tengah umat manusia itu jauh lebih utama daripada ibadah yang dilakukan oleh seribu ahli ibadah.” (lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa melakukan suatu amal tanpa landasan ilmu maka apa-apa yang dia rusak itu justru lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.” (lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

Memetik Hidayah Dengan Bahasa Arab

Allah ta’ala menurunkan al-Qur’an kepada kita agar kita memetik hidayah yang terkandung di dalamnya sehingga dengan sebab itulah orang-orang beriman akan dapat meraih kebahagiaan dan keselamatan, di dunia dan di akhirat.

Allah ta’ala berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Apabila datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku itu niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)

Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mengikuti ajaran yang terdapat di dalamnya, maka Allah akan tunjuki dirinya dari kesesatan dan Allah akan menjaganya pada hari kiamat dari hisab yang buruk.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 829 oleh Imam al-Baghawi rahimahullah)

Mengikuti ajaran al-Qur’an dengan baik dan sempurna akan terwujud apabila seorang muslim memahami bahasa al-Qur’an; yaitu bahasa arab.

Ustadz Aceng Zakaria -semoga Allah membalas kebaikannya- mengatakan, “Sesungguhnya kebutuhan setiap muslim untuk mengenali kaidah-kaidah bahasa arab adalah sangat mendesak. Sebab, ilmu itulah yang menjadi ‘jembatan’ untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan keduanya dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Sementara tidak mungkin kita bisa memahami keduanya dengan pemahaman yang sempurna kecuali setelah mengetahui kaidah-kaidah bahasa arab.” (lihat mukadimah beliau terhadap kitabnya al-Muyassar fi ‘Ilmi an-Nahwi)

Ilmu bahasa arab ini -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah termasuk kategori ilmu yang bermanfaat. Beliau berkata, “Adapun ilmu nafi’/ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa mensucikan hati dan ruh yang pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ilmu itu adalah ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meliputi ilmu tafsir, hadits, dan fiqih serta segala ilmu yang menopang atau membantunya semacam ilmu-ilmu bahasa arab…” (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 42)

Oleh sebab itu kita dapati para ulama salaf menaruh perhatian besar terhadap bahasa arab, sebab bahasa arab adalah kunci untuk memahami ilmu agama Islam dari sumbernya; yaitu al-Kitab dan as-Sunnah. Sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu berkata, “Pelajarilah bahasa arab, sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian dan pelajarilah fara’idh/ilmu waris sesungguhnya ia juga termasuk bagian dari agama kalian.” (lihat at-Ta’liqat al-Jaliyyah ‘ala Syarh al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah, hal. 34)

Maka dari itu sudah semestinya seorang muslim -yang telah Allah anugerahkan kepadanya akal pikiran, waktu, dan kesempatan- untuk meraih keutamaan yang sangat agung ini yaitu mempelajari bahasa al-Qur’an dan as-Sunnah [baca: bahasa arab] seraya berharap kepada Allah agar menjadikan amalnya ikhlas karena-Nya dan diterima di sisi-Nya.

Yogyakarta, 16 Jumadil Awwal 1434 H/ 28 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36 other followers

Keutamaan Ilmu

Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiyallahu’anhuma berkata, “Sebuah bab tentang ilmu yang kamu pelajari lebih kami cintai daripada seribu raka’at sholat sunnah.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26 karya Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah)

Pentingnya Ikhlas

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya, “Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada di jalan Allah?”. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan Sabar

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)
%d bloggers like this: